Kebanyakan panduan tentang tinjauan pustaka menjelaskan hasil akhirnya: harus menyintesis, bukan meringkas; harus menunjukkan celah penelitian; harus disusun per tema. Semuanya benar, tetapi hampir tidak membantu ketika kamu sedang menatap empat puluh PDF dengan tenggat yang makin dekat. Yang membuat mahasiswa macet adalah bagian tengahnya: bagaimana mengubah tumpukan sumber menjadi paragraf yang menyintesisnya.
Panduan ini membahas bagian tengah itu, langkah demi langkah, dengan satu topik contoh dari pencarian pertama sampai paragraf jadi. Di bagian akhir, kamu akan melihat paragraf yang sama ditulis dua kali, sekali sebagai ringkasan dan sekali sebagai sintesis, dan tahu persis apa yang membedakannya.
Pengertian tinjauan pustaka (literature review) dalam karya ilmiah
Tinjauan pustaka (literature review, sering juga disebut kajian pustaka) adalah bagian karya tulis ilmiah yang berisi uraian sistematis tentang hasil penelitian, teori, dan sumber lain yang relevan dengan topik penelitian. Tinjauan pustaka menjelaskan apa yang sudah diketahui, bagaimana hal itu diketahui, di mana para peneliti berbeda pendapat, dan apa yang belum diteliti.
Tinjauan pustaka bisa berdiri sendiri sebagai artikel, menjadi BAB II dalam skripsi, tesis, atau disertasi, atau menjadi satu bagian dalam karya ilmiah lain seperti artikel jurnal, makalah, dan proposal penelitian. Fungsinya membenarkan penelitian baru: setelah membaca tinjauan pustaka yang baik, pembaca paham mengapa pertanyaanmu penting dan mengapa belum ada yang menjawabnya.
Manfaat tinjauan pustaka bagi penelitian
- Menunjukkan posisi penelitianmu di antara penelitian-penelitian sebelumnya.
- Membantu menemukan celah penelitian (research gap) yang menjadi alasan penelitianmu dilakukan.
- Memberi dasar teori untuk merumuskan hipotesis dan memilih variabel.
- Membantu memilih metode, karena kamu bisa melihat bagaimana topik yang sama diukur dalam studi lain.
- Mencegah pengulangan penelitian yang sudah pernah dilakukan.
- Menyaring informasi, sehingga kamu tahu sumber mana yang benar-benar penting untuk topikmu.
- Menyediakan pembanding untuk membahas hasil penelitianmu di bab pembahasan.
Perbedaan tinjauan pustaka, landasan teori, dan daftar pustaka
Tiga istilah ini sering tertukar:
| Isi | Pertanyaan yang dijawab | |
|---|---|---|
| Tinjauan pustaka | Uraian kritis tentang penelitian terdahulu dan teori yang berkaitan dengan topik | Apa yang sudah diketahui dan apa yang belum? |
| Landasan teori | Teori-teori yang dipilih untuk menjelaskan masalah penelitian dan variabelnya | Teori apa yang saya pakai, dan mengapa? |
| Daftar pustaka | Daftar semua sumber yang dikutip, ditulis dengan format sitasi tertentu | Sumber apa saja yang saya rujuk? |
Di banyak kampus, landasan teori adalah salah satu bagian di dalam BAB II Tinjauan Pustaka. Di kampus lain, BAB II diberi judul “Kajian Pustaka” atau “Landasan Teori”. Namanya boleh berbeda; isinya mirip.
Isi tinjauan pustaka: apa saja isi BAB II skripsi?
Struktur yang umum dalam BAB II skripsi, terutama untuk penelitian kuantitatif:
- Penelitian terdahulu: studi-studi yang relevan beserta hasil dan keterbatasannya.
- Landasan teori: teori dan konsep yang menjelaskan variabel penelitian.
- Kerangka pemikiran: bagan atau uraian hubungan antarvariabel yang diturunkan dari teori.
- Hipotesis: dugaan sementara yang akan diuji (jika penelitianmu kuantitatif).
Penelitian kualitatif biasanya tidak memuat hipotesis, dan urutan bagiannya bisa berbeda. Cek pedoman penulisan skripsi fakultasmu dan contoh skripsi yang sudah lulus di repositori kampus.
Jenis-jenis tinjauan pustaka
| Jenis | Apa yang dilakukan | Penggunaan umum |
|---|---|---|
| Tinjauan naratif | Mengumpulkan dan menafsirkan literatur tentang suatu topik tanpa protokol ketat | BAB II skripsi, makalah kuliah |
| Tinjauan sistematis | Menjawab pertanyaan spesifik dengan pencarian yang terencana dan dapat diulang | Kesehatan, kedokteran, kebijakan publik |
| Scoping review | Memetakan seberapa banyak dan jenis penelitian apa yang ada tentang suatu topik | Bidang baru atau sangat luas |
| Meta-analisis | Menggabungkan hasil banyak studi secara statistik | Jika studi-studi mengukur hasil yang sama |
Tinjauan sistematis adalah proyek besar: satu analisis terhadap tinjauan yang terdaftar menemukan rata-rata 67 minggu dari pendaftaran sampai publikasi. Jika dosenmu hanya meminta “tinjauan pustaka”, hampir pasti yang dimaksud adalah tinjauan naratif, dan itulah yang dibahas di sisa panduan ini.
Cara menulis tinjauan pustaka dalam 7 langkah
Langkah 1: tentukan topik penelitian dan batasannya
Tinjauan pustaka tanpa pertanyaan akan menjadi daftar tanpa arah. Tulis pertanyaan yang ingin dijawab, lalu tentukan batasannya: tahun terbit, populasi, bidang, dan jenis sumber.
Contoh kita: Apakah latihan mengingat (retrieval practice, belajar dengan mengerjakan kuis) meningkatkan hasil ujian siswa dan mahasiswa? Batasan: studi sejak 2006, jenjang SMA dan perguruan tinggi, artikel jurnal yang ditelaah sejawat, dan meta-analisis utama.
Ujian yang baik: kamu bisa menjelaskan topikmu dalam satu kalimat dan menyebutkan apa yang tidak termasuk. Jika belum bisa, persempit dulu pertanyaannya sebelum mencari.
Langkah 2: cari literatur di database
Pencarian punya tiga lapis. Lakukan ketiganya, karena setiap lapis menemukan artikel yang terlewat oleh lapis lain.
- Database. Untuk sumber berbahasa Indonesia, mulai dari Google Scholar, Garuda (Garba Rujukan Digital),
dan repositori universitas. SINTA membantu mengecek peringkat akreditasi jurnal nasional (S1 sampai S6).
Untuk sumber internasional, gunakan Scopus, Web of Science, PubMed, atau ERIC sesuai bidangmu; akses
lengkapnya biasanya lewat perpustakaan kampus. Buat daftar kata kunci dan sinonimnya dalam bahasa Indonesia
dan Inggris, lalu gabungkan dengan operator Boolean:
("latihan mengingat" OR "retrieval practice" OR "testing effect") AND (ujian OR exam). - Bola salju. Ambil artikel terbaik, lalu telusuri daftar pustakanya (ke belakang) dan artikel yang mengutipnya (ke depan, lewat “Dikutip oleh” di Google Scholar).
- Tinjauan yang sudah ada dan literatur abu-abu. Tinjauan yang sudah terbit adalah jalan pintas ke sumber-sumber kunci. Skripsi, tesis, laporan pemerintah, dan prosiding menunjukkan penelitian terbaru yang belum masuk jurnal.
Catat setiap pencarian: database, kata kunci, tanggal, dan jumlah hasil. Hanya butuh dua menit per pencarian, dan catatan itu nanti menjadi bahan paragraf metode.
Langkah 3: seleksi dan evaluasi sumber
Hasil pencarian akan jauh lebih banyak daripada yang sanggup kamu baca. Seleksi bertahap membuat prosesnya tetap terkendali:
- Judul. Buang yang jelas tidak sesuai topik.
- Abstrak. Simpan studi yang cocok dengan pertanyaan dan batasanmu.
- Teks lengkap. Untuk yang tersisa, pahami gambaran isinya (pertanyaan, metode, sampel, hasil) sebelum membaca dengan saksama.
Tahap ketiga adalah tempat waktu paling banyak habis. Peringkas PDF bisa mempercepatnya: unggah artikelnya dan dalam satu menit kamu mendapat pertanyaan penelitian, metode, poin utama, dan kesimpulannya, lalu kamu bisa bertanya “berapa jumlah sampelnya?” atau “apa keterbatasannya?”. Gunakan untuk memutuskan apakah artikel layak dibaca saksama, bukan sebagai pengganti membaca.
Ringkasan bisa melewatkan keterbatasan, subkelompok, atau catatan penting yang mengubah cara yang benar untuk mengutip sebuah studi. Jika sumber itu masuk ke tinjauan pustakamu, baca artikelnya, setidaknya bagian metode, hasil, dan keterbatasan.
Saat mengevaluasi setiap sumber, tanyakan:
- Relevansi: apakah menjawab pertanyaanmu, atau hanya memakai kata kunci yang sama?
- Kredibilitas: apakah ditelaah sejawat? Siapa penerbitnya? Apakah jurnalnya terakreditasi?
- Metode: apakah desainnya sesuai dengan kesimpulannya? Apakah sampelnya cukup?
- Kebaruan: apakah ini bukti terbaru, atau sudah tergantikan?
- Pengaruh: apakah ini studi klasik yang dikutip semua orang dan wajib kamu sertakan?
Langkah 4: susun catatan dalam matriks sintesis
Inilah langkah yang dilewati kebanyakan panduan, padahal langkah inilah yang membuat penulisan jadi mudah. Matriks sintesis adalah tabel dengan satu baris per sumber dan satu kolom per tema atau karakteristik. Mengisinya memaksamu membaca untuk membandingkan, bukan untuk meringkas. Jika perlu mengingat cara meringkas satu sumber, baca cara membuat ringkasan.
| Sumber | Desain dan sampel | Hasil utama | Kondisi penting | Keterbatasan |
|---|---|---|---|---|
| Roediger dan Karpicke (2006) | Eksperimen, mahasiswa | Kuis mengungguli membaca ulang setelah satu minggu (61% dan 40%) | Membaca ulang unggul setelah lima menit | Teks pendek, bukan ujian sungguhan |
| Rowland (2014) | Meta-analisis | Efek pengujian, g = 0,50 | Lebih besar dengan umpan balik | Sebagian besar studi laboratorium |
| Adesope dkk. (2017) | Meta-analisis | Kuis latihan dibanding belajar ulang, g = 0,61 | Berlaku di berbagai usia dan format | Sedikit studi jangka panjang di kelas |
| Yang dkk. (2021) | Meta-analisis di kelas | Kuis meningkatkan hasil belajar, g ≈ 0,50 | Kelas dan ujian sungguhan | Format kuis beragam |
Setelah matriks terisi, polanya terlihat jelas dari kolom-kolomnya: kesepakatan tentang efek utama, satu kondisi yang mengubahnya, dan satu keterbatasan yang sama di banyak studi. Pola-pola itu menjadi tema, dan tema menjadi subjudul.
Langkah 5: temukan tema, perdebatan, dan celah penelitian
Baca matriks kolom demi kolom dan tulis satu kalimat untuk setiap pola:
- Kesepakatan: apa yang disepakati sebagian besar studi?
- Perdebatan: di mana mereka berbeda, dan apakah perbedaannya dijelaskan oleh metode, sampel, atau konteks?
- Perkembangan: bagaimana pemikiran di bidang ini berubah dari waktu ke waktu?
- Celah: apa yang belum diteliti, atau hanya diteliti dalam kondisi yang sangat terbatas?
Dalam contoh kita: ada kesepakatan bahwa kuis mengungguli belajar ulang; keunggulannya bergantung pada jarak waktu sampai ujian; dan bukti jangka panjang di kelas sungguhan, dengan ujian yang dinilai, masih sedikit. Kalimat terakhir itulah alasan penelitian baru.
Langkah 6: pilih struktur dan buat kerangka
Ada tiga cara umum menyusun isi tinjauan pustaka:
- Tematik: satu bagian per tema. Paling berguna untuk hampir semua tugas mahasiswa.
- Kronologis: bagaimana bidang ini berkembang. Cocok jika sejarahnya penting.
- Metodologis: dikelompokkan per metode, misalnya eksperimen dan studi di kelas. Cocok jika metode menjelaskan perbedaan hasil.
Kerangka tematik untuk contoh kita:
- Pendahuluan: pertanyaan, pentingnya, batasan, dan cara sumber dicari
- Efek pengujian dalam studi laboratorium
- Bukti dari ruang kelas
- Kondisi yang mengubah efeknya: jarak waktu, umpan balik, format
- Celah dan arah penelitian selanjutnya
- Kesimpulan
Langkah 7: tulis pendahuluan, isi, dan penutup
Pendahuluan memberi konteks topik, menjelaskan pentingnya, menetapkan batasan, dan menjelaskan singkat cara kamu menemukan dan memilih sumber. Akhiri dengan tesis tinjauan: argumen umum yang kamu ajukan tentang literatur.
Isi mengikuti kerangka. Buka setiap paragraf dengan kalimat yang membuat klaim tentang literatur, lalu gunakan beberapa sumber untuk mendukung, membatasi, atau mempersoalkannya. Benang merah inilah yang membedakan tinjauan pustaka dari tempelan kutipan.
Penutup merangkum temuan utama tinjauan, menegaskan celahnya, dan menghubungkannya dengan pertanyaan penelitianmu atau penelitian selanjutnya.
Contoh tinjauan pustaka BAB II skripsi lengkap beserta strukturnya
Berikut contoh tinjauan pustaka yang sudah jadi, dalam bentuk kerangka BAB II dengan isi tiap subbabnya. Judul penelitiannya dibuat untuk contoh ini: “Pengaruh Kuis Daring terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI pada Mata Pelajaran Biologi”. Sumber yang dikutip di dalamnya adalah penelitian nyata, tetapi skripsinya sendiri fiktif. Panjangnya juga dipendekkan: di skripsi asli, tiap subbab biasanya beberapa halaman.
BAB II — TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hasil Belajar
Hasil belajar adalah perubahan kemampuan yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, yang dalam ranah kognitif umumnya diukur melalui tes. Dalam penelitian ini, hasil belajar dibatasi pada ranah kognitif tingkat pemahaman dan penerapan, karena kedua tingkat itulah yang diukur oleh instrumen tes yang digunakan. Pembatasan ini penting karena sebagian penelitian terdahulu mengukur ingatan jangka pendek saja, sehingga hasilnya tidak selalu dapat dibandingkan.
2.2 Latihan Mengingat (Retrieval Practice)
Latihan mengingat adalah kegiatan menarik kembali informasi dari ingatan tanpa melihat materi, misalnya melalui kuis. Pada studi laboratorium maupun di ruang kelas, latihan mengingat secara konsisten mengungguli membaca ulang, dengan efek meta-analitis sekitar setengah simpangan baku (Adesope dkk., 2017; Rowland, 2014). Keunggulan ini tidak langsung terlihat: dalam eksperimen Roediger dan Karpicke (2006), membaca ulang justru lebih baik pada pengukuran lima menit, dan kuis baru unggul setelah satu minggu. Temuan tersebut menjadi dasar penelitian ini untuk mengukur hasil belajar pada jeda satu minggu, bukan langsung setelah perlakuan.
2.3 Kuis Daring sebagai Media Pembelajaran
Kuis daring menerapkan prinsip latihan mengingat melalui platform digital yang memberi umpan balik otomatis. Yang dkk. (2021) menunjukkan bahwa penerapan kuis di ruang kelas nyata tetap memberi efek positif, meskipun lebih kecil daripada di laboratorium. Namun, sebagian besar studi tersebut dilakukan di jenjang perguruan tinggi, sehingga penerapannya pada siswa SMA masih perlu diuji.
2.4 Penelitian Terdahulu yang Relevan
Peneliti (tahun) Subjek Metode Temuan utama Roediger & Karpicke (2006) Mahasiswa Eksperimen laboratorium Kuis unggul atas membaca ulang pada jeda 1 minggu Rowland (2014) Gabungan Meta-analisis Efek pengujian g = 0,50 Adesope dkk. (2017) Gabungan Meta-analisis Efek pengujian g = 0,61 Yang dkk. (2021) Siswa & mahasiswa Meta-analisis studi kelas Efek positif, lebih kecil di kelas nyata Keempat penelitian di atas sama-sama mendukung efektivitas latihan mengingat, tetapi belum ada yang secara khusus menguji kuis daring pada mata pelajaran Biologi di jenjang SMA di Indonesia. Celah inilah yang hendak diisi oleh penelitian ini.
2.5 Kerangka Berpikir
Pembelajaran konvensional pada mata pelajaran Biologi banyak mengandalkan membaca ulang catatan, yang menghasilkan ingatan baik dalam jangka pendek tetapi cepat menurun. Jika siswa diberi kuis daring secara berkala, mereka akan melakukan latihan mengingat berulang sehingga retensi materi bertahan lebih lama dan hasil belajar pada tes satu minggu setelah pembelajaran menjadi lebih tinggi.
2.6 Hipotesis
H₀: Tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang diberi kuis daring dan siswa yang belajar dengan membaca ulang. H₁: Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kedua kelompok tersebut.
Perhatikan tiga hal dalam contoh di atas. Pertama, subbab 2.1–2.3 bergerak dari konsep umum (hasil belajar) ke konsep yang paling spesifik (kuis daring), bukan dari sumber ke sumber. Kedua, subbab 2.4 tidak hanya mendaftar penelitian, tetapi ditutup dengan kalimat celah penelitian yang menghubungkannya ke topik skripsi. Ketiga, kerangka berpikir merangkum alur argumen BAB II dalam satu paragraf dan langsung menurunkan hipotesis. Struktur subbab bisa berbeda di tiap kampus, jadi periksa dulu pedoman penulisan skripsi di prodimu.
Contoh tinjauan pustaka untuk skripsi atau artikel: meringkas dan menyintesis paragraf yang sama
Ini paragraf yang ditulis seperti kebanyakan draf pertama, satu sumber dalam satu waktu:
Roediger dan Karpicke (2006) menemukan bahwa mahasiswa yang diuji tentang sebuah teks mengingat lebih banyak setelah satu minggu dibandingkan yang membacanya ulang. Rowland (2014) melakukan meta-analisis dan menemukan efek pengujian sebesar g = 0,50. Adesope dkk. (2017) juga melakukan meta-analisis dan menemukan g = 0,61. Yang dkk. (2021) meneliti ruang kelas dan menyimpulkan bahwa kuis membantu belajar.
Setiap kalimatnya benar, tetapi paragrafnya hampir tidak mengatakan apa-apa. Sekarang materi yang sama, disintesis:
Dalam studi laboratorium maupun di ruang kelas, latihan mengingat secara konsisten mengungguli belajar ulang, dengan efek meta-analitis sekitar setengah simpangan baku (Adesope dkk., 2017; Rowland, 2014; Yang dkk., 2021). Namun, keunggulan ini tidak langsung terlihat: dalam eksperimen Roediger dan Karpicke (2006), membaca ulang menghasilkan ingatan yang lebih baik setelah lima menit, dan kuis baru unggul setelah satu minggu. Karena sebagian besar studi mengukur ingatan dalam hitungan hari, bukan sepanjang semester, besar manfaatnya untuk ujian akhir belum jelas.
Versi kedua membuat klaim di kalimat pertama, memakai beberapa sumber sebagai bukti, membatasi klaim itu dengan satu kondisi, dan berakhir pada celah penelitian. Itulah arti menyintesis dalam praktik. Perhatikan juga format sitasinya: contoh ini memakai gaya APA dengan singkatan “dkk.” yang lazim dalam penulisan berbahasa Indonesia. Kampusmu mungkin memakai gaya lain, jadi ikuti pedomannya.
Kesalahan umum dalam penulisan tinjauan pustaka
- Meringkas sumber satu per satu alih-alih menyusunnya per tema.
- Tidak punya argumen. Tinjauan tidak pernah menyatakan apa yang ditunjukkan literatur secara keseluruhan.
- Cakupan terlalu luas, sehingga setiap tema hanya mendapat satu kalimat dan tidak ada analisis.
- Hanya memilih sumber yang sependapat. Mengabaikan penelitian yang bertentangan melemahkan kredibilitasmu.
- Terlalu banyak kutipan langsung. Parafrasekan dan sintesiskan; kutip langsung hanya jika kata-katanya sendiri penting.
- Sumber usang di bidang yang sudah berubah karena penelitian terbaru.
- Mengutip yang belum dibaca, termasuk artikel yang disarankan AI.
- Menunda sampai mepet. Menulis terburu-buru mendorongmu meringkas satu per satu, karena menyintesis menuntut semua sumber sudah dibaca sebelum menulis.
Bolehkah memakai ChatGPT untuk tinjauan pustaka?
Untuk sebagian pekerjaan, boleh. ChatGPT dan alat serupa bisa membantu mencari kata kunci, menjelaskan metode yang belum kamu pahami, menyarankan kerangka, dan memberi masukan tentang kejelasan draf yang kamu tulis sendiri.
Jangan memakai chatbot umum untuk mencari sumber atau menulis tinjauanmu. Dalam sebuah studi tahun 2023, lebih dari separuh referensi yang dibuat GPT-3.5 untuk tinjauan pustaka ternyata fiktif, begitu juga 18% referensi buatan GPT-4. Alat yang mencari di database sungguhan, seperti Elicit, Consensus, dan Semantic Scholar, jauh lebih aman untuk menemukan artikel, dan peringkas yang bekerja langsung pada PDF lebih aman daripada ingatan chatbot untuk mengecek isi sebuah artikel. Apa pun alatnya, cek kebijakan kampusmu tentang AI dan nyatakan penggunaannya jika diwajibkan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Bab 2 tinjauan pustaka isinya apa?
Umumnya berisi penelitian terdahulu yang relevan, landasan teori, kerangka pemikiran, dan hipotesis (untuk penelitian kuantitatif). Urutan dan nama bagiannya berbeda antarkampus, jadi ikuti pedoman penulisan skripsi fakultasmu.
Apa perbedaan tinjauan pustaka dan landasan teori?
Tinjauan pustaka membahas secara kritis penelitian terdahulu dan teori yang berkaitan dengan topik. Landasan teori adalah teori-teori yang kamu pilih untuk menjelaskan masalah dan variabel penelitianmu. Di banyak kampus, landasan teori menjadi salah satu subbab di dalam tinjauan pustaka.
Tinjauan pustaka dalam makalah isinya apa?
Dalam makalah, tinjauan pustaka biasanya lebih singkat: uraian beberapa teori dan hasil penelitian yang relevan dengan topik makalah, disusun per tema, lalu dihubungkan dengan pembahasanmu. Tidak selalu perlu kerangka pemikiran atau hipotesis.
Berapa banyak sumber yang dibutuhkan untuk tinjauan pustaka?
Tidak ada angka baku. Yang penting, studi-studi kunci dan perdebatan utama di topikmu tercakup. Banyak pedoman kampus menyarankan sebagian besar sumber berasal dari 5 sampai 10 tahun terakhir, kecuali karya klasik; cek pedoman kampusmu.
Apa perbedaan tinjauan pustaka dan daftar pustaka?
Daftar pustaka adalah daftar sumber yang dikutip, ditulis dengan format sitasi tertentu dan diletakkan di akhir karya. Tinjauan pustaka adalah teks tempat kamu menganalisis dan membahas sumber-sumber itu.
Apakah tinjauan pustaka sama dengan literature review?
Ya. Tinjauan pustaka adalah padanan bahasa Indonesia untuk literature review. Istilah kajian pustaka dan kajian literatur juga sering dipakai untuk hal yang sama.
Kesimpulan
Untuk menulis tinjauan pustaka: tentukan pertanyaan yang sempit, cari dalam tiga lapis, seleksi sumber dengan ketat, catat setiap sumber dalam matriks sintesis, ubah pola dalam matriks menjadi tema, lalu tulis paragraf yang membuat klaim tentang literatur alih-alih menjelaskan sumber satu per satu. Jika setiap paragraf mengutip, membandingkan, mempertentangkan, mengkritik, dan menghubungkan, tinjauan pustakamu sudah menjalankan fungsinya.